Aoi no Sora


Stories and Fictions

Dokter Yaumi Mai??

Aku terpaku. Di atas sofa kafe berwarna hijau itu aku duduk mengangkat kedua kakiku dan serius mendengarkan. Tangan kananku yang dibalut gelang plastik hitam yang sudah hampir patah itu memeluk kaki, sedangkan tangan kiriku tergeletak lemas di samping pantatku yang menempel pada bantalan sofa kecil itu. Mataku diam tak berkedip, menatap sosok di depanku dengan tegang, seolah bola mataku itu hampir loncat dari tempatnya. Nafasku tertahan sementara keringat dingin mengucur dari keningku, melewati pipi dan jatuh dari daguku. Jantungku berdegup keras, menanti-nanti suara seorang wanita cantik berambut hitam panjang yang duduk di depanku sambil menyesap kopinya. Setelah merasa puas dengan latte panas yang menggugah selera itu ia meletakkan gelasnya dan menatapku serius.

“Ini kisah nyata. Pengalamanku saat aku sedang dites untuk masuk ke sebuah rumah sakit.”

Jantungku berdesir. Wanita bernama Sayo ini benar-benar bisa membuat suasana menjadi tegang selagi ia sedang bercerita. Agaknya ia memiliki kemampuan sebagai seorang penyair, tapi ia bersikeras ingin menjadi dokter bedah dan hidup tenang dengan jubah putih bersih serta stetoskop yang menggantung manis nan serasi di lehernya yang dihiasi seuntai kalung salib. Gadis beragama Katolik ini akan bercerita mengenai sesuatu yang bisa membuat orang yang cukup cerewet sepertiku ini diam dan mendengarkan. Bahkan aku sudah sering menulis cerita horor asal-asalan di komputerku dan menceritakannya kepada para pembantuku dengan tujuan membuat mereka sulit kencing di malam hari, tapi belum pernah sekalipun aku berhasil membuat suasana sedramatis ini! Apalagi langit gelap dan suasana kafe yang sepi karena malam membuat ceritanya semakin hidup. Anak ini, sahabat baikku sejak SMP memang sudah merencanakan ini. Jenius sekali dia, mengundangku petang begini untuk bercerita horor. Nampaknya ia ingin membuatku paranoid seperti orang yang sedang dikejar sekumpulan yakuza yang hendak membunuhnya. Tapi apa boleh buat, aku sudah terperosok ke dalam perangkapnya dan sekarang ia akan membuatku trauma seumur hidup.

“Mengenai dokter yang hendak mengetesku. Namanya Dokter Yaumi Mai. Dan ini semua terjadi karena kesalahpahaman.”

SAYOO!!!! Hatiku berteriak saking takutnya. Apa yang akan diceritakan wanita ambisius ini? Kita tak tahu. Yang pasti aku akan sangat menyesal telah datang ke sini, dan yang terjadi selanjutnya akan terus terpatri dalam benakku, tak’kan bisa kulupakan.

“Saat itu… aku sedang menunggu di ruang tunggu, menunggu Dokter Yaumi datang…”

Dunia seakan kembali ke masa lalu. Waktu terputar balik, dan kami berdua seolah berada di dalam dunia Sayo, dunia yang dibuatnya karena ceritanya dan segala suasana yang berusaha dibangunnya. Aku hanya bisa mematung, terdiam, betapa aku kagum dengan wanita yang selalu bersamaku di saat suka maupun duka ini. Dan betapa aku larut dalam ceritanya. Ya, aku yakin, saat Sayo mencapai titik utama ceritanya ini, aku akan menjerit tanpa ampun, karena atmosfer ini… atmosfer horor yang seram dan membuat jantung hampir keluar dari rongga dada.

“Aku gugup dan tegang, karena dokter ini merupakan dokter bedah terbaik di seluruh distrik, dan aku juga senang karena aku akan bertatap muka langsung dengan wanita ini. Dokter Yaumi. Mendengar namanya saja sudah membuatku merinding. Aku tidak sabar menantikan beliau datang dan segera memulai ujian yang menentukan masa depanku itu…” Aku tetap serius mendengarkan seraya Sayo menarik nafas dan terus melanjutkan ceritanya.

“Tapi Dokter tidak datang-datang juga. Lama-lama aku menjadi bosan sekaligus bingung, karena ia telat setengah jam dan membuatku tidak sabar sekaligus stress menahan keringat dan jantungku yang berdebar saking kuatnya. Aku, saking tidak sabarnya, saking excitednya dengan ujianku, akhirnya naik ke ruang ujian sebelum pemberitahuan dari suster.. Eh, ternyata Dokter Yaumi sudah ada di sana..”

Aku mengernyitkan dahi. Ceritanya berakhir?  Jantungku langsung berubah ke mode tenang dan berdegup lembut. Tapi ternyata kisah sesungguhnya baru dimulai sekarang.

“… atau bukan….”

Lanjutan yang dibuat Sayo secara mendadak itu membuat jantungku kembali ke mode siaga satu. Keringat hangat yang semula membasahi sekujur tubuhku tiba-tiba tertahan dan tanganku mengepal saking kagetnya, menunggu-nunggu wanita bermata coklat ini melanjutkan ceritanya.

“Dokter itu nampak aneh. Aku tidak mengerti mengapa dokter bedah terhebat di distrik ini bahkan tidak memerhatikan mukanya, yang pucat, kusam, dan keriput. Firasatku mengatakan kalau dia sama sekali bukan Dokter Yaumi yang akan mengetesku ujian. Tapi agaknya firasatku itu salah, karena tiba-tiba dia memanggil namaku dan menyuruhku masuk ke dalam ruang ujian. Kalau bukan Dokter Yaumi, dokter mana lagi yang tahu namaku?”

Aku tidak mengubah posisi dudukku. Sayo bercerita dengan tenang namun khas dan berkharisma. Ia berulang kali kembali menenggak kopinya, tidak memedulikan tenggorokanku yang kering dan kehausan luar biasa yang melandaku, namun aku terlalu tegang untuk meraih segelas choco parfait yang berdiri kaku di atas meja bundar berkaki kayu yang berjarak tak lebih dari 3o cm di depanku. Ah, jarak sedekat itu! Tapi tetap saja…

Suasana kembali tegang setelah jeda yang diambil Sayo guna melegakan tenggorokannya yang kering. Setelah sang master horor ini melanjutkan ceritanya, yang terdengar hanya gema dari suaranya yang pelan namun berat.

“Tapi, saat aku hendak masuk…” Jantungku serasa ditusuk pecahan kaca dan meledak menjadi serpihan kecil-kecil saat wanita ini melanjutkan ceritanya. “… ada seseorang yang berlari ke arahku.”

“Ehk,” aku tersedak oleh ludahku sendiri. Namun kejadian itu tidak membuat jantungku melega, karena justru suasana semakin menyeramkan, apalagi langit sudah sepenuhnya berwarna hitam dengan kerlap-kerlip bintang nun jauh di atas sana.

“S… si… ap…a..?” tanyaku lirih dengan kerongkongan tercekat. Mendadak suaraku jadi serak dan parau, serta tidak bisa keluar. Aku bahkan terlalu takut untuk menelan air liurku sendiri. Sayo yang melihat keteganganku, menunduk dan memejamkan mata, seolah yang akan diceritakannya berupa sesuatu yang luar biasa mengagetkan.

“Ternyata… seorang wanita.” Sayo mengangkat kepalanya dan kembali menatapku serius. “Seorang wanita cantik berambut biru panjang sepunggung dan berjubah putih bersih melambai-lambai. Seorang dokter rupanya. Kacamata berbingkai ungu yang lensanya memantulkan cahaya lampu yang samar-samar menutupi mata indahnya yang berwarna biru ametis. Ia berlari kecil ke arahku dengan nafas yang diatur seksama. Aku hanya bisa tertegun menatap sosok itu terus berlari ke arahku. Siapa dia? Aku penasaran.”

“Dokter… Yaumi…?” bisikku perlahan, dengan kekuatan seadanya. Sayo hanya terdiam sesaat. Tak lama kemudian, ia mengangguk. Pelan dan lemah.

“Ya. Ternyata wanita itu adalah Dokter Yaumi Mai. Dokter Yaumi Mai…” Ucapan Sayo terhenti sesaat.

“… yang asli…..”

Jantungku serasa berhenti berdegup, dan aku tidak bisa bernafas. Angin malam dan semilir udara sejuk pendingin ruangan yang tadi menerpa tubuhku tiba-tiba berhenti. Suara bicara orang-orang yang tadi meramaikan suasana kafe kecil ini tiba-tiba disetop oleh sebuah kekuatan mistis yang aneh. Seluruh panca inderaku serasa mati. Menunggu suara Sayo yang terdengar begitu berat dan bergema di telingaku. Seolah hanya kami berdua yang berada di dunia ini.

“Lantas……. wanita pucat itu…….”

Sayo menjadi semakin serius, dan aku melihat mukanya juga menegang.

“Hantu………… kah……?”

Seluruh darah dalam tubuhku berdesir mendengar satu kata itu saja, satu kata itu saja yang diucapkan Sayo. Aku terdiam, terpaku, tertegun dalam suasana seram yang tidak bisa kugambarkan dengan kata-kata.

Ternyata, setelah itu Sayo bertanya pada Dokter Yaumi. Sebelumnya, pernah ada seorang dokter yang meninggal karena serangan jantung, persis di rumah sakit ini, saat ia hendak mengetes seorang murid baru yang akan menjadi dokter bedah di sana. Dan dokter bedah baru itu adalah Yaumi Mai sendiri. Kejadiannya sekitar 7 tahun lalu. Karena itu, untuk menebus keberhalangannya, ia akhirnya selalu datang untuk mengetes murid baru, persis tanggal 13 Juni, hari kematiannya..


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.